AMARAN!! Duduk Posisi Ini Dimurkai Oleh Allah. Berikut Adalah Penjelasan Hadis Rasulullah SAW

Gambar Hiasan

Duduk yang dimurkai sebagaimana yang disifati Nabi dengan menjadikan tangan kiri sebagai penumpu tubuh.

Dewasa ini, masyarakat kebanyakan sering mengartikan bahwa Islam itu hanya mengurus masalah ibadah kepada Allah saja. Faktanya, tidak hanya menyangkut masalah hubungan kita dengan Allah (habluminallah), namun Islam juga mengurus masalah menyangkut hubungan kita dengan sesama manusia (habluminannas) dan lingkungan.

Bahkan Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari yang paling kecil hingga paling besar, dari paling sederhana hingga paling rumit bahkan dari manusia bangun tidur sampai tidur lagi.

Islam menjadi satu-satunya agama sekaligus sistem yang layak dijadikan pedoman hidup. Kelengkapan cakupan aspek kehidupan Islam desebutkan secara terperinci dalam Al Qur’an. Termasuk mengatur perkara duduk.

Di antara bentuk duduk yang terlarang adalah sebagaimana terlihat pada gambar diatas, iaitu duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan dijadikan sandaran atau tumpuan.

Melalui Rasulullah SAW, Allah mengabarkan Dia begitu murka dengan hamba-hamba-Nya yang duduk seperti ini. Sebagai muslim, sudah selayaknya kita menjauhi apa yang diperintahkan Rasul, termasuk menghindari duduk seperti ini.

Duduk yang di murkai

Bukankah ini sering kita lakukan? Terutama saat duduk di lantai saat menghadiri jamuan, saat bersantai bersama keluarga atau saat berada di dalam masjid.

عَنْ أَبِيهِ الشَّرِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَّ بِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِىَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِى وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِى فَقَالَ « أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ».

Syirrid bin Suwaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai?” (HR. Abu Daud no. 4848. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Yang dimaksud dengan al maghdhub ‘alaihim adalah orang Yahudi sebagaimana kata Ath Thibiy. Penulis ‘Aunul Ma’bud berkata bahwa yang dimaksud dimurkai di sini lebih umum, baik orang kafir, orang fajir (gemar maksiat) , orang sombong, orang yang ujub dari cara duduk, jalan mereka dan semacamnya. (‘Aunul Ma’bud, 13: 135)

Dalam  Iqthido’ Shirotil Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits ini berisi larangan duduk seperti yang disebutkan karena duduk seperti ini dilaknat, termasuk duduk orang yang mendapatkan adzab. Hadits ini juga bermakna agar kita menjauhi jalan orang-orang semacam itu.”

Kata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, duduk seperti ini terlarang di dalam dan di luar solat. Bentuknya adalah duduk dengan bersandar pada tangan kiri yang dekat dengan punggung. Demikian cara duduknya dan tekstual hadits dapat difahami bahawa duduk seperti itu adalah duduk yang terlarang. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 25: 161)

Dalam riwayat Abu Daud yang lain pula disebutkan: “Janganlah kamu duduk seperti ini kerana ia adalah cara duduk orang-orang yang diazab.” Hadis itu dihasankan oleh al-Albani.

Juteru itu, sesiapa yang mahu duduk menyandar, maka bersandarlah pada tangan kanan, bukan kiri. Ataupun dia bersandar pada kedua-dua tangannya.

Syeikh Ibnu Uthaimin berkata: Cara duduk ini adalah disifatkan oleh Nabi SAW sebagai cara duduk orang-orang yang dimurkai. Adapun meletakkan kedua-dua tangan di belakang badan dan menyandar pada salah satu daripadanya adalah tidak mengapa. Ataupun dia meletakkan tangan kanannya juga tidak mengapa. 

Apa yang disifatkan oleh Rasulullah sebagai cara duduk orang-orang yang dimurkai ialah menjadikan tangan kiri di belakang badan, dan menjadikan tapak tangannya di tanah dan bersandar padanya. Inilah apa yang disifatkan oleh Nabi SAW sebagai cara duduk orang-orang yang dimurkai.

Beliau turut berkata: Hadis itu maknanya jelas iaitu seseorang tidak boleh menyandar pada tangan kiri yang berada di belakang pada tanah (lantai).

Syeikh ditanya: Sekiranya seseorang duduk seperti ini dengan tujuan berehat sahaja, bukan tujuan mengikut orang Yahudi, adakah dia juga berdosa? Beliau menjawab: Sekiranya dia mahukan untuk berehat, maka jadikanlah sisi kanan, lalu hilanglah tegahan.

Syaikh ‘Abdul Al ‘Abbad mengatakan bahwa duduk seperti ini hukumnya haram, meski sebagian ulama lain mengatakan makruh.

“Makruh dapat dimaknakan juga haram. Dan kadang makruh juga berarti makruh tanzih (tidak sampai haram). Akan tetapi dalam hadits disifati duduk semacam ini adalah duduk orang yang dimurkai, maka ini sudah jelas menunjukkan haramnya.” (Syarh Sunan Abi Daud, 28: 49)

Sementara itu Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, duduk yang dimurkai sebagaimana yang disifati Nabi dengan menjadikan tangan kiri sebagai penumpu tubuh. Namun jika meletakkan kedua tangan sebagai tumpuan, atau tangan kanan saja menjadi tumpuan, maka hal itu tidak mengapa.

AMARAN!! Duduk Posisi Ini Dimurkai Oleh Allah. Berikut Adalah Penjelasan Hadis Rasulullah SAW

Lantas jika ada yang bertanya, dimana logikanya? Sebagian mungkin mengatakan, ini tidak masuk akal dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Allah dan Rasulullah SAW sudah memerintahkan, maka ini sudah cukup bagi seorang muslim.

Adapun para ulama mengatakan jika duduk seperti ini merupakan duduknya orang-orang yang sombong.

Masihkan kita mahukan bukti lain? Jika ini perintah Allah dan Rasulnya, maka kita tidak perlu bukti lain. Ini adalah perintah dan jika tidak ditaati merupakan tanda kesombongan seorang muslim.

Begitulah ajaran Islam, setiap sendi kehidupan bernafas dengan aturan yang sudah ditetapkan. Peraturan yang dibuat, bukan bermaksud memberatkan, namun pasti ada sebab positif baik dari segi sosial dan kesihatan.

Jika ada yang bertanya, logikanya mana, takkan sampai duduk seperti ini dilarang? Maka jawabnya, sudah dijelaskan bahwa duduk seperti ini adalah duduk orang yang dimurkai Allah (maghdhub ‘alaihim). Jika sudah disebutkan demikian, maka sikap kita adalah sami’na wa atho’na, kami dengar dan taat. Tidak perlu cari hikmahnya dulu atau berkata ‘why?‘ ‘why?‘, baru diamalkan. Seorang muslim pun tidak boleh sampai berkata, ah seperti itu saja kok masalah. Ingatlah, Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nur: 63). Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan atas dasar hawa nafsunya yang ia utarakan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An Najm: 3-4)

Ibnu Katsir berkata, “Khawatirlah dan takutlah bagi siapa saja yang menyelisihi syari’at Rasul secara lahir dan batin karena niscaya ia akan tertimpa fitnah berupa kekufuran, kemunafikan atau perbuatan bid’ah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 281)

Wallahualam.

Rujukan: Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 149230
Sumber : rumaysho.com
Sumber:- islamituindah.com.my / suaramedia.org