Tubuh Anak Perempuanku Penuh Dengan Bekas Luka, Namun Dia Tidak Pernah Memberitahu Apa Sebabnya, Setelah Kubaca Diarinya, Aku Menangis Tersedu-Sedu Kerana..

Jeni berusia 9 tahun dan tinggal bersama dengan kakek neneknya karena orang tua sering bekerja di luar negeri.

Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa Jeni menjadi seorang gadis yang kurang percaya diri dan pendiam, ia juga tidak punya banyak teman di sekolah.

Kakek nenek tidak pernah membantu Jeni mengerjakan PR, oleh karena itu PR Jeni selalu ia kerjakan sendiri. Suatu hari, orang tua Jeni kembali dan menemukan sesuatu yang membuat mereka geram dan langsung menuntut guru Jeni.

Orangtua Jeni tidak sempat kembali karena pekerjaan mereka sibuk. Jeni juga tidak antusias begitu melihat orangtuanya karena memang jarang bertemu.
Saat ibunya ingin memeluknya, Jeni malah pergi bersembunyi. Sudah beberapa hari ibunya mencoba, tapi selalu begini.


Suatu hari, ibu Jeni masuk ke dalam kamarnya ketika Jeni sedang mengganti baju dan melihat badan Jeni penuh dengan bekas luka.

Ibu langsung bertanya kepada Jeni bagaimana hal ini bisa terjadi. Jeni malah mendorong ibu keluar dari kamar.

Setelah itu, mau sesusah payah apapun sang ibu bertanya, Jeni tidak pernah mau menjawab. Sampai suatu hari, Jeni sangat kesal ditanya terus, ia langsung berteriak, “Kalian ada hak apa kontrol aku?
Ketika orangtua orang lain menemani anakanya, kalian dimana? Ketika aku butuh kalian, kalian dimana? Sekarang baru aja peduliin aku, apa gunanya?” Sang ibu langsung bengong dan tidak dapat berkata apa-apa.

Tidak disangka selama ini ia dan suami kerja keluar negeri demi mencukupi kebutuhan hidup Jeni, tapi secara bertahap Jeni membangun sebuah dinding diantara mereka.

Keesokan harinya, ketika Jeni sedang berada di sekolah, ibu pun masuk untuk membersihkan kamar Jeni.
Ia mendapati sebuah buku kecil di belakang bantal Jeni. Ternyata buku itu adalah buku diari Jeni. Ibu pun berpikir mungkin ada jawaban dari bekas luka Jeni, ia pun membuka buku tersebut.

Beberapa saat kemudian, air mata ibu mengalir. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya.
Di dalam buku ini tertulis: “Aku tidak tahu aku salah di mana. Anda melempar bukuku di depan kelas. Ekspresi Anda tidak akan pernah aku lupakan.

Sejak saat itu, aku taku dengan Anda. Aku berusaha menjadi anak yang baik, tapi aku akan menjadi anak yang akan dipukul walau tidak tahu salah dimana.”

Ternyata dibuku itu menuliskan semua hukuman fisik dari guru Jeni. Ibu merasa sulit bernafas membacanya.

Pantas Jeni merasa kami tidak peduli dengannya, karena kami tidak melakukan tanggung jawab sebagai orang tua.

Ibu langsung memberitahu masalah ini kepada Ayah. Mereka langsung memutuskan untuk menuntut guru Jeni ke pengadilan. Disini, kami juga ingin mengingati semua orang tua bahwa jangan karena uang malah mengabaikan anak.

Anak perlukan perhatian orang tua, mereka perlu hari-hari ketika mereka dimanja, mereka butuh teman, jadilah orang tua yang baik dengan mengerti tentang perasaan anakmu!

Sumber: kisahbenar.online